Cari Blog Ini

Senin, Juni 06, 2011

DERITA HATI


Tubuh Ku ‘Dihabisi’ Bapak Kandung
                Pekerjaan Bapak ku yang hanya seorang tukang becak, nyaris membuat kehidupan keluarga serba kekurangan bahkan sering keluarga kami tidak makan seharian karena bapak ku tidak mendapatkan uang saat mangkal disekitaran kota Cikampek. Apalagi sekarang sudah semakin gampangnya orang untuk kredit mencicil sepeda motor. Tentunya semakin banyak orang mempunyai kendaran pribadi, semakin lesu juga usaha bapak ku sebagai tukang penarik jasa becak.
                Aku bernama Aisyah, usia ku kini menginjak 16 tahun, pendidikan ku hanya sampai sekolah menengah pertama (SMP), padahal aku ingin sekali melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Namun apalah daya, orang tua sudah tidak mampu untuk membiayai pendidikan ku, karena keluarga kami tergolong keluarga tidak mampu. Aku sendiri anak kedua, kakaku yang laki-laki sudah berumah tangga dan telah pisah rumah dari orang tua dan hidup bersama istri dan anak-anaknya. Bapak ku kini berusia 45 tahun dan ibu ku 40 tahun. Aktifitas ku sehari-hari hanya membantu ibu saja, kadang membantu ibu untuk mencuci pakaian orang lain, karena ibu selain membuka warung kecil-kecilan dirumah, juga sering menerima jasa cucian pakaian para tetangga rumah.
                Setiap pukul 02.00 dini hari ibu selalu bangun untuk pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan dagangnya. Ibu sudah sepuluh tahun lalu berjualan nasi uduk dan kopi di rumah, lumayan untuk menambah-nambah penghasilan bapak yang hanya sebagai penarik becak. Ibu ku sangat sabar dalam menghadapi hidup ini, padahal yang aku ketahui ibu sering kali mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan dari sikap bapak. Memang watak yang dimiliki oleh bapak ku adalah temperamental, sering marah-marah kalau ibu melakukan kesalahan sedikit saja. Aku memang mengetahui benar apa yang sering dikerjakan bapak ku jika diluar rumah. Bapak sering minum-minuman keras bersama kawannya, namun aku sering diam dan tidak memberitahukannya kepada ibu.
                Yang aku ketahui, kenapa bapak akhir-akhir ini sering mabuk dan gampang sekali marah-marah kepada ibu. Karena dia merasa kesal, setahun lalu ketika kami bertiga berobat ke dokter karena penyakit yang ibu derita. Setelah menerima hasil diagnose, dokter memberitahukan bahwa ibu ku mempunyai kelainan penyakit di rahimnya. Dalam bahasa dokter yang diutarakan kepada kami bertiga, ibu mempunyai penyakit di rahimnya yang biasa di sebut Kista. Mungkin yang membuat bapak agak mumet lagi, bahwa mereka dilarang sementara untuk melakukan hubungan suami istri, karena kalau hal itu tetap dilakukan proses terhadap pengobatan kurang maksimal dan akan mengganggu penyakit yang diderita ibu.    
                Mungkin satu atau dua bulan bapak bisa menahan hasrat seksual yang selama ini selalu bapak dapatkan dari ibu. Kini sudah berjalan satu tahun, namun tanda-tanda kesembuhan penyakit ibu tidak kunjung sembuh, bahkan berat badan ibu semakin hari semakin melorot. Jarangnya ibu untuk berobat ke dokter, dikarenakan tidak ada biaya. Bapak yang setiap hari menarik becak jarang pula membawa hasil, satu-satunya penghasilan yang didapat hanya dari berrjualan nasi uduk dan mencuci pakaian milik para tetangga, itupun hanya untuk kebutuhan sehari-hari makan saja, untuk biaya mengobati penyakit yang diderita ibu tidak ada sama sekali.

Malapetaka datang        
                Aku yang sudah mulai menginjak dewasa, membuat tubuh ku semakin berkembang. Tubuh ku terlihat montok, warna kulit badanku putih, memang sejak dari kecil hingga dewasa kini warna kulit ku tidak berubah. Yang membuat aku sedikit minder adalah ukuran BH ku yang mencapai 36. Kadang banyak laki-laki yang iseng sering memandangi kearah payudara ku, mereka kalau melihat ke arah payudara ku tidak pernah berkedip. Kadang aku berpikir, apakah para pria itu aneh atau takjub melihat payudara ku yang besar, yang jelas aku sedikit merasa risih juga diperhatikan seperti itu.
                Yang lebih gilanya lagi, sampai-sampai bapak ku sendiri kadang suka jahil mencuri-curi pandang untuk melihat payudara ku yang besar ini. Pernah suatu kali bapak kepergok oleh ku sedang mengintip aku sedang ganti pakaian di kamar ku. Perlu pembaca ketahui juga, rumah orang tua ku memang belum permanen, masih setengah bata. Apalagi didalam rumah, cuma ada dua kamar yang hanya disekat dengan triplek dan setiap kamarnya tidak disertai daun pintu, hanya ditutup memakai penutu kain saja. Ketika bapak mengintip aku sehabis mandi dan berniat ganti pakaian dibalik kain penutup pintu itu. Betapa kagetnya aku setelah mengetahui akan hal itu, aku sempat berteriak kecil. Bapak yang telah kepergok aksi cabulnya itu, hanya berucap minta maaf dan langsung ngeloyor pergi keluar rumah.
                Sebenarnya kejadian cabul bapak ku itu bukan hanya sekali saja, sudah beberapa kali kepergok oleh ku. Mulai dari mengintip aku mandi, buang air besar, aku sedang tidur, memang salah ku juga, kalau tidur aku selalu mengenakan daster. Soalnya aku sangat tidak betah kalau tidur tidak memakai daster, suhu udara didalam rumah kalau malam pun terasa gerah seperti udara disiang hari, mungkin karena rumah orang tua ku terlalu sempit.
                Inilah hari naas ku. Tepatnya hari minggu dini hari di bulan Januari 2010, saat ibu ku sudah pergi ke pasar untuk membeli keperluan dagang nasi uduknya. Aku yang sedang tertidur lelap di kamar ku yang tidak berpintu, dikagetkan oleh sosok pria berperawakan kurus menindih tubuh ku yang hanya mengenakan daster. Secara tiba-tiba pria itu menciumi payudara ku yang memang bila tidur tidak pernah memakai BH. Aku yang gelagapan yang belum tersadar dari tidur pulas ku, jelas meronta-ronta. Setelah kuperhatikan, ternyata pria kurus itu adalah tak lain bapak ku sendiri. Saat itu tercium bau sekali aroma minuman keras dari mulut si bapak. Dengan sekuat tenaga aku berontak, namun tenaga ku kalah kuat disbanding tenaga bapak.
                Bapak yang merasa mendapat perlawanan dariku, membuat dia berang dan langsung membekap mulut ku sambil mengancam ku dengan sebelah pisau ditangannya. Rupanya aksi itu sudah dia rencanakan, karena bapak waktu itu sudah memegang sebilah pisau yang sering dipergunakan ibu di dapur. “Diam kamu Isah. Turuti apa maunya bapak. Atau kamu akan bapak bunuh sekarang” gertak bapak sambil melepaskankan dasterku. Aku yang merasa ketakutan, akhirnya menuruti apa yang bapak perintah. Dengan nafsu setannya, pagi yang dingin itu akhirnya dengan leluasa bapak menggauli ku. Padhal waktu itu aku menangis dan memohon kepada bapak, tapi bapak tidak menghiraukannya. Maka pagi menjelang subuh itu, jebol lah keperawanan ku oleh bapak ku sendiri.
Darah segar keperawanan ku langsung menetes diatas kasur lusuh. “Cepat Isah kamu bersihkan darah dikasur itu, sebelum diketahui ibu mu, awas kalau kejadian ini kamu beritahukan sama orang lain, kamu akan bapak bunuh,” ancam nya kepada ku. Dalam kesedihan dan tangis di malam itu, aku berharap kejadian laknat itu tidak akan terulang lagi kedepannya.
Perkiraan ku salah, setelah kejadian pagi buta di bulan Januari itu, terulang kembali di minggu berikutnya. Tepatnya di hari Rabu masih dibulan Januari, hari itu ibu ku tidak berjualan nasi uduk, karena membantu saudaranya yang sedang hajatan di daerah Purwakarta. Ketika aku bangun tidur, langsung kulihat kamar ibu, disitu bapak masih tergolek tidur. Pagi itu aku merasa sangat kegerahan, sambil menenteng handuk aku menuju kamar mandi keluarga yang tidak ada penutupnya. Aku langsung mengguyur tubuh ku dengan air, terasa sejuk rasanya badan ini. Tapi, kenapa perasaan ku tiba-tiba merasa tidak enak. Namun karena merasa tidak ada apa-apa akhirnya kuteruskan acara mandi ku itu.
Selesai mandi, aku cepat-cepat lari kecil menuju kamar ku. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba bapak ku menubruk tubuh ku dari belakang yang juga langsung menarik handuk yang kukenakan. “Layani bapak dulu Isah. Bapak kepengen sekali” kata bapak ku yang kali ini tidak sekasar awal waktu memperkosa ku. “Isah, kamu sayang kan sama bapak. Kamu tahu kan ibu mu punya penyakit apa? Kasihani bapak Isah, bapak mau jajan tidak punya uang dan takut kena penyakit kelamin. Mohon, Isah jangan menolak bapak yah?” rengek nya saat itu.
Aku yang awalnya sebal dan marah sekali terhadap kelakuan bapak yang bejat, kenapa tiba-tiba setelah mendengar rengekan bapak seperti itu, aku langsung merasa iba dan luluh segala dendan di hati ini kepadanya. Akhirnya, siang itu dengan kesadaran hati setelah mendengar rengekan bapak itu, aku layani permainan hasrat sek bapak walaupun pertama merasa jijik. Tanpa aku merasa munafik, permainan sek bapak siang itu sepertinya sangat tangguh dan sempat membuat ku kewalahan. Aku yang baru mengenal arti sek dari bapak, sempat menikmati keluarnya air kenikmatan itu. Bapak terlalu pintar merangsang aku, dengan jilatannya di payudara dan vagina serta gerakan sek nya sangat membuat ku kagum dan ketagihan. Siang itu aku dan bapak sempat menuntaskan permainan dengan empat ronde. “Bapak sungguh kuat dan pintar menjilati seluruh tubuh Isah. Isah sangat puas sekali dengan permainan bapak” bisik ku ditelinganya ketika aku ditindih bapak.
Sebenarnya aku sangat berdosa sekali terhadap ibu ku yang telah melahirkan ku. Tapi apalah daya, aku juga merasa kasihan melihat bapak yang telah menanggung beban berat atas penyakit yang diderita ibu selama ini. Dan aku juga merasa kasihan bilamana bapak harus menyalurkan hasrat sek nya kepada wanita penjaja sek, aku juga secara tidak langsung menikmati apa arti sek yang sesungguhnya dari bapak. Setiap ada kesempatan, aku dan bapak selalu menyalurkan hasrat sek kami berdua. Kadang bilamana hasrat sek ku sudah ada di ubun-ubun, aku dengan tidak punya rasa malu lagi langsung minta jatah sek kepada bapak.
Ternyata dampak dari semua kejadian ini, bapak ku yang selama ini kucel, kurus dan suka minum-minuman keras, sekarang semua itu sudah ditinggalkannya. Karena aku meminta kepada bapak, kalau bapak masih ingin dilayani hasratnya oleh aku, bapak harus meninggalkan kebiasaan jeleknya itu, dan bapak setujui itu. Badan bapak kini sudah mulai gemuk lagi, bahkan terlihat perlente seperti ABG-ABG sekarang. Bahkan pekerjaan bapak sekarang, tidak lagi menarik becak tapi sudah memiliki kendaraan roda dua untuk ngojek.
Sudah hampir setahun ini aku sangat seringnya melakukan persetubuhan dengan bapak, anehnya tidak terjadi kehamilan, padahal aku sendiri tidak melaksanakan KB. Tapi aku sadar, semua perbuatan yang kami lakukan ini pasti ada resikonya. Mudah-mudahan Tuhan secepatnya menyadarkan kami berdua dari perbuatan laknat ini.    
Seperti yang diceritakan Aisyah (16) kepada Nuansa Metro pertengahan bulan Oktober 2010 lalu. Sesuai permintaan nara sumber nama dan tempat kejadian disamarkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar